1. KEHIDUPAN BARU
Aku duduk diujung tempat tidur dengan perasaan hampa. Hujan lagi-lagi mengguyur kota sejak aku tiba dikota ini. Seakan-akan langit tahu betapa sendunya hati dan jiwaku. Aku mendengar suara seorang wanita dalam kepalaku, namun tidak ditelingaku. Aku menolehkan kepalaku kearah pintu kamar sebelum pintu itu bebar-benar terbuka.
“ Selamat pagi Nadine,” sapa ibuku. Tidak kaget melihat aku sudah tahu kemunculannya.
“ Pagi,” sahutku muram.
“ Hujan lagi, ya?” ibuku berbasa-basi sambil melangkah mendekatiku. Lalu ia duduk disebelahku. Memandangiku dengan prihatin lalu mengelus kepalaku. “ Kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk meyakinkan, “ yah…” jawabku kemudian.
“ Hari ini awal kau kuliah, ya?” Tanya ibuku mencoba berbasa-basi lagi.
Aku menjawabnya dengan sekali anggukan
“ Kau senang?” Tanya ibuku sambil menatapku cemas.
Aku menghela napas bosan. “ Mom, I’m okay!” pekikku gelisah karena sedetik yang lalu mendengar pikiran ibuku yang cemas dan putus asa. “ Jangan khawatirkan aku lagi. Aku baik-baik saja!” aku meyakinkannya dengan tatapan mataku.
Ibuku mendengus pelan. “ Oke kalau kau baik-baik saja. Tapi ibu minta kau jangan murung lagi, ya. Ibu nggak sanggup melihat putriku yang cantik murung terus…” ibuku membelai kepalaku dengan sayang.
Aku sedikit tersinggung dikatai murung – dan kuakui aku memang murung. Namun aku sudah berusaha menutupi semua perasaanku dari ibuku yang kutahu itu tidak bisa mengelabui insting seorang ibu.
“ Jangan khawatirkan aku lagi,” kataku meriang-riangkan suaraku. Tapi terdengar justru sangat aneh dan memaksa. “ Bagaimana kabar Dad? Dia oke?”
“ Secara keseluruhan dari dirinya, ya. Dia baik-baik saja. Tapi pekerjaannya sedikit tidak baik,” jawab ibuku.
Mas Dimas masih mencari para mafia itu.
Aku mendengar pikiran ibuku.
“ Kalau ibu tidak keberatan, aku akan mandi dulu,” ujarku secara halus mengusir ibuku dari kamar.
“ Oh, oke. Aku tunggu dibawah. Aku sudah siapkan sarapan untukmu.”
Pintu kamarku tertutup.
Aku menghela napas lega. Lega karena tidak harus mendengar pikiran ibuku tentang aku lagi.
Dengan enggan aku pun menuju kamar mandi untuk membasahi diriku dengan air, memakai sabun, keramas dan menyikat gigiku. Aku tidak berminat untuk mencari baju yang bagus untuk kupakai kekampus baruku. Aku hanya mengambil celana jeans dan kaus yang disimpan ditumpukkan paling atas dilemariku. Aku hanya butuh beberapa menit untuk berias. Sebenarnya tidak benar-benar berias sih, hanya memoles pelembab dan menyisir rambutku.
Aku sudah bisa mendengar pikiran-pikiran ibuku ketika aku sampai dibawah tangga dan menuju ruang makan. Aku menghampiri ibuku dan mengecup pipinya. Kemudian aku duduk dikursi sebelahnya.
Aku hanya berdua dengan ibuku dirumah ini. Ayahku masih di New York. Masih harus meneruskan pekerjaannya menangkap mafia-mafia yang mencoba membunuhku – namun malah membunuh orang yang kucintai. Aku anak satu-satunya dikeluargaku. Ayahku adalah kepala FBI di Amerika. Sedangkan ibuku adalah aktris opera di Hollywood. Namun di Indonesia dia memilih hanya menjadi ibu rumah tangga dan menjagaku.
Aku menyelesaikan sarapanku cepat-cepat. Jam sudah berdentang Sembilan kali berarti menyuruhku untuk segera berangkat kekampus baruku. Aku mengecup kedua pipi ibuku yang cantik sekali. Namun ada kelelahan yang terpancar dari wajahnya.
“ Baik-baik saja ya sayang. Jangan banyak berdiam diri. Bergaullah dengan teman-teman barumu!” pesan ibuku.
“ Yah…doakan saja…” sahutku sambil mengendikkan bahu.
Ibuku menatapku galak. Dan berbicara denganku dari pikirannya.
Aku memutarkan bola mataku dengan pasrah. “ Oke, mom! Oke!”
“ Baiklah. Jangan pulang terlalu larut. Walaupun kita tahu disini kemungkinan aman, tapi jangan lupa tetap waspada!” ibuku berultimatum.
“ Aku tahu,” sahutku. “ Aku pergi. Hati-hati dirumah, mom! Aku sayang padamu!” aku mengecup pipinya sekali lagi lalu berjalan menuju mobil RX6 silverku yang baru.
Aku menjalankan mobilku dengan kecapatan sedang. Bahkan hamper pelan. Jarus speedometer tidak beranjak dari angka enam puluh sejak aku berangkat dari rumah tadi. Aku memang tidak berniat untuk datang tidak terlambat kekelas baruku. Jujur saja, aku takut. Takut teringat kenangan-kenanganku semasa sekolah dengan Edgar dulu. Hatiku terasa nyeri saat mengucapkan nama Edgar – walaupun hanya dalam pikiranku.
Tidak enak rasanya hidup diliputi kesedihan dan kesendirian seperti ini. Aku sampai harus menghela napasku lagi untuk melegakan sesak didadaku. Tanpa terasa aku sudah membelokkan mobilku masuk kegerbang kampus dan memarkirkan mobilku. Aku bahkan tidak ingat saat mengendarai mobilku menuju sini.
Aku melihat jam tanganku sekilas. Masih pukul setengah sepuluh kurang lima. Tandanya aku tidak terlambat. Sial sekali. Tapi aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan masuk kedalam kelas pertamaku karena orang-orang memandangiku – atau memandangi mobilku yang kelewat mewah ini? Hahahaha…aku mencoba menghibur diri sendiri.
Dan aku benar tentang keduanya. Orang-orang disekitarku memandang mobilku dan aku. Well, sebenarnya aku tidak terlalu suka menjadi perhatian. Aku sudah minta pada ayahku untuk dibelikan mobil yang biasa saja. Namun biasa dalam pikirannya berbeda dengan definisi biasa dalam pikiranku.
Ruang 1B.
Itulah kelas pertamaku. Kelas sudah dipenuhi mahasiswa-mahasiswa baru dan calon teman-teman baruku. Kepalaku mulai berdenging karena banyaknya pikiran yang kudengar secara tidak sengaja. Aku menarik napas lalu membuka pintu kaca kelasku.
Semua mata tertuju padaku.
Tatapan mereka seolah-olah aku ini ratu sejagad saja. Kalau ibuku yang diperhatikan seperti ini aku tidak akan merasa aneh. Tapi ini aku. Akulah yang mereka tatap dengan pikiran yang bisa kagum dan iri padaku. Ada apa denganku?
Aku mengejang. Tubuhku bergeming ditempat tidak dapat bergerak. Pikiranku panik. Namun aku kembali rileks beberapa detik kemudian. Well, kadang mengetahui pikiran orang kadang-kadang sedikit menentramkan hatiku. Aku melangkahkan kakiku ketempat duduk yang masih kosong dibarisan kedua. Aku mencoba tersenyum pada calon teman-teman baruku.
Aku gelisah. Masih belum nyaman berada dilingkungan baru ini. Seseorang menyentuh bahuku, membuatku kaget dan menoleh dengan cepat.
“ Kau membuatku kaget,” ujarnya sambil menyunggingkan senyumnya yang…menawan. Aku tidak munafik, cowok ini ganteng sekali.
“ Harusnya aku yang bilang begitu,” sahutku sedikit sinis.
Dia menyodorkan tangannya padaku dengan maksud menjabat tanganku. Dengan ragu aku meraih jabatan tangannya.
“ Panji,” ujarnya.
“ Nadine,” ujarku.
Perkenalan singkat, kukira. Walaupun aku tahu dipikirannya banyak sekali yang ingin ia tanyakan padaku. Salah satunya,
Kau bisa membaca pikiranku?
Aku mengernyit. Tidak yakin cowok bernama Panji itu berbicara padaku dalam pikirannya.
Ya benar! Kau bisa membaca pikiranku!
Aku masih diam. Ragu-ragu untuk membalas ucapannya. Dalam pikiran sekalipun. Aku berusaha mengosongkan pikiranku. Agar Panji tidak bisa membaca apa yang aku pikirkan.
Please, sahutlah aku.
Aku tetap bergeming. Kemudian aku bersyukur karena seorang laki-laki separuh baya masuk kedalam kelas. Aku yakin itu dosen kami dalam mata kuliah ini.
Mungkin aku salah. Mungkin dia tidak bisa benar-benar membaca pikiranku. Hanya pikiranku saja.
Lagi-lagi aku mendengar Panji berbicara dalam pikirannya. Tapi aku berusaha mengendalikan pikiranku agar tidak memikirkan sesuatu yang penting tentang hal membaca pikiran ini.
Dosen itu bernama pak Cahyo, dosen Pengantar Manajemen Bisnis. Ia mengajak kami berkenalan. Yah itulah yang dilakukan dosen setiap masuk kelas baru. Pak Cahyo mengabsen kami satu persatu dan menanyakan darimana kami berasal. Pak Cahyo sampai pada namaku.
“ Nadine Agnestya!”
“ Ya!” sahutku datar.
“ Kau berasal darimana?”
“ New York,” jawabku singkat. Namun sedetik kemudian aku menyesal telah menjawab itu. Seharusnya aku bilang saja berasal dari Bandung. Jadi mereka – dosen dan teman-teman sekelas – tidak perlu memandangiku, bahkan menilikku.
“ New York!” pak Cahyo terlihat kagum. “ Bagaimana keadaan disana? Asyik?”
Aku bergidik. Asyik darimana? Ada juga menyedihkan.
“ Begitulah,” sahutku singkat.
“ Apa pekerjaan ayahmu?”
Aku sebal karena dosen ini banyak ingin tahu.
“ Mmmm…agen FBI,” jawabku ragu.
“ Wow…” seru hampir seluruh teman sekelasku.
Lagi-lagi aku merasa menyesal telah salah menjawab.
“ Ibumu juga?” Tanya pak Cahyo lagi.
Aku mulai berhati-hati menjawab, “ Dia…hanya…ibu rumah tangga!”
Pak Cahyo mengangguk sekali sambil tersenyum lalu meneruskan mengabsen nama setelahku.
Lalu mulailah hal yang sudah kuduga. Teman-teman dikiri, kanan, depan dan belakangku mengajakku berkenalan dan banyak bertanya banyak hal. Dan mereka baru berhenti mengintrogasiku saat pak Cahyo menegur.
“ Panji Nugraha,” pak Cahyo sampai pada cowok yang bisa membaca pikiran itu.
“ Hadir, pak!” sahutnya sok ramah.
“ Kau berasal darimana?”
“ Yogyakarta,” sahutnya.
“ Selanjutnya, Pingkan Aulia,” pak Cahyo melanjutkan mengabsen.
Sial. Hanya aku yang diinterogasi hanya karena aku berbeda.
Pelajaran akhirnya dimulai dengan membosankan dan tidak menarik perhatianku. Pelajaran akhirnya selesai setelah seratus lima puluh menit. Cukup lama bila keadaan membosankan. Aku segera bangkit dari kursi lalu beranjak keluar kelas. Namun aku membaca pikiran Panji untuk menahanku.
“ Nadine!” serunya. Benar saja.
Aku menghentikan langkahku diambang pintu. “ Ya?”
“ Mau kuantar pulang?” tawarnya ramah. Aku mengernyit.
“ Tidak. Terima kasih. Aku membawa mobilku sendiri,” aku menolaknya secara halus.
Dia tampak kecewa. “ Kalau begitu, sampai tempat parkir?” rupanya dia tak mau menyerah.
“ Oke,” aku menyerah. Tidak mau dia semakin memaksa. Aku merasakan tatapan teman-teman sekelasku. Cukup tidak membuatku tak nyaman. Tidak enak rasanya kita dikelilingi orang banyak saat kita sedang ingin sendiri.
Aku dan panji berjalan berdampingan. Kulirik tampangnya yang ganteng sekali itu dengan seksama. Kepalanya nyaris botak akibat dari masa orientasi tiga hari yang lalu. Yang mewajibkan anak laki-laki dicukur seperti Tukul Arwana. Menyedihkan. Aku tidak suka cowok botak. Kuperhatikan lagi cowok disebelahku itu. Badannya tegap dan sedikit terbentuk – tidak terlalu atletis sih, tapi cukup berbentuk dan berisi. Sedikit mirip Edgar… aku menggeleng keras-keras agar pikiran tentang Edgar tidak menyakiti hatiku yang sudah sakit.
“ Rumahmu dimana?” Panji akhirnya membuka percakapan diantara kami.
“ Di Dago,” sahutku. “ Kau?”
“ Aku menyewa kamar kost di wisma Griya beberapa meter dari kampus,” sahutnya. Kudengar pikirannya yang senang karena aku balik bertanya.
“ Yang mana mobilmu?” Tanya Panji saat kami sudah sampai ditempat parkir mobil khusus mahasiswa.
“ Yang silver itu,” aku menunjuk mobil RX6-ku sekilas.
“ Wow!!” pekik Panji kagum. Aku sampai kaget. “ Itu mobilmu?!”
Aku hanya mengangguk. Menahan diri untuk tidak tersenyum karena ekspresinya yang berlebihan. Panji masih saja terus mengoceh kagum pada mobilku saat kami berjalan menghampiri mobilku.
“ Mobil ini adalah mobil idamanku,” ocehnya. “ Aku sudah ratusan, bahkan ribuan kali merengek agar dibelikan mobil ini. Bagaimana caranya kau mendapatkannya?”
“ Well,” aku berpikir mencoba mengingat mengapa aku mendapatkan mobil ini. “ Aku hanya minta dibelikan mobil yang biasa, dan ayahku membelikanku ini.”
“ Wow!” Panji tak hentinya berkata ‘wow’. “ Pasti biasa untuk ukuranmu dan ayahmu berbeda, ya?”
“ Kupikir juga begitu,” sahutku. “ Aku malah berharap dibelikan mobil seperti Mr. Bean punya saja.”
Panji mengernyit heran. “ Kau gila?”
“ Entahlah. Kurasa itu yang aku rasakan akhir-akhir ini,” kataku hati-hati. Takut ternyata Panji bias membaca pikiran yang aku coba kendalikan.
Panji menggeleng. “ Maksudku, mobilmu,” Panji menekankan kata terakhirnya yang menunjuk padaku.
“ Kenapa?” tanyaku heran namun lega. Lega karena ternyata Panji tidak membaca pikiranku. Setidaknya belum.
“ Semua orang disini menginginkan mobil seperti punyamu! Dan kau berharap dibelikan mobil seperti Mr. Bean punya?” matanya terbelalak geli.
Aku mengendikkan bahu. “ Kau membawa mobil? Aku bermaksud ingin memberimu kesempatan merasakan naik mobilku,” aku bermaksud bercanda. “ Walaupun hanya beberapa meter.”
Panji tertawa. “ Tentu saja aku mau! Untuk apa aku mengendarai mobilku dalam beberapa meter?” lalu ia masuk kedalam mobil setelah kubuka kunci otomatisnya.
Aku mengantarkan Panji sampai wisma yang ia sewa.
“ Berminat melihat kamarku yang berantakan? Siapa tahu aku menemukan bakpia diantara tumpukkan barang yang belum sempat kubereskan,” tawar Panji sebelum keluar dari mobil.
“ Tidak kali ini kurasa. Ibuku menyuruhku pulang cepat,” ujarku.
“ Oke,” katanya tampak kecewa. “ Tapi besok kau harus mampir! Itu akan menjadi motivasiku untuk membereskan kamar.”
Aku menimang sebentar. “ Baiklah jika kau memaksa.”
Lagi-lagi Panji tertawa. “ Oke. Aku memaksa! Baiklah, sampai besok ya! Berjanjilah besok kau akan duduk disampingku!”
Aku menatapnya bingung. Mencoba membaca pikirannya tanpa membuka pikiranku. Kosong. Aku menebak, ia menutup pikirannya juga.
Aku menghela napas, “ Baiklah, Panji.”
“ Janji?”
“ Janji.”
“ Sampai besok kalau begitu!” katanya lalu melangkah keluar mobil. Namun saat hendak menutupnya, ia membukanya lagi. “ Boleh minta nomor hapemu?”
“ Tentu.” Kemudian aku menyebutkan sederet angka nomor hapeku dan ia mencatat dihapenya.
“ Akan ku-SMS kau nanti,” janjinya.
“ Akan kubalas jika aku tidak sibuk,” sahutku.
“ Kuharap kau tidak sibuk,” katanya sungguh-sungguh,
Aku hanya tersenyum kecil.
Panji menutup pintu mobil. Melambaikan tangannya padaku lalu aku meluncurkan mobil menuju rumahku.
Aku menemukan ibuku sedang berkebun dihalaman. Ia tersenyum melihat kedatanganku. Aku menghampirinya setelah memarkir mobilku dibelakang mobil New Camry miliknya.
“ Hai, mom!” aku mengecup pipinya dengan cepat.
“ Hai, Darling. Kau tampak…” ibuku menilik wajahku sebentar sebelum berkata, “ ceria.”
Aku langsung diam bergeming menatapnya. “ Mungkin hanya pengaruh candaan dosenku dikelas,” aku berbohong.
Ibuku tersenyum. “ Aku senang dosenmu bisa membuat putrid cantikku tersenyum kembali. Sampaikan salamku pada dosenmu yang jenaka itu.”
“ Tentu,” aku menyeringai aneh. “ Aku ganti baju dulu.”
“ Makan siang sudah kusiapkan dimeja makan.”
“ Siang ini mendung lagi, mom. Aku tidak ingin kau masuk angin,” aku mengingatkan ibuku.
“ Tentu saja aku juga tidak ingin,” sahutnya.
“ Aku akan menyusulmu ke meja makan setelah kau disana,” janji ibuku.
“ Oke.”
Aku bergegas menuju kamarku dilantai dua. Setelah menutup pintu dibelakangku, aku mengehela napas. Aneh rasanya perasaanku saat ini. Sesak didadaku mulai berkurang. Mulai terasa ringan. Sudah lama aku tidak berbicara sebanyak yang aku lakukan pada Panji. Sudah lama aku tidak memiliki perasaan ingin menertawakan orang.
Lalu aku teringat ucapan Panji dalam pikirannya. Jantungku seolah-olah berhenti berdetak selama sedetik. Jangan sampai Panji tahu rahasiaku. Rahasia bahwa aku bisa membaca pikiran orang. Tapi Panji tidak akan tahu jika dia tidak bisa membaca pikiran juga! Jangan-jangan Panji juga bisa membaca pikiran sama sepertiku. Ada gejolak aneh dalam dadaku. Napasku memburu dan kenangan pahit itu seolah melintas lagi dibenakku.
Tidak. Aku tidak boleh mengingat kejadian itu lagi.
Aku mengeluarkan liontin kalung yang tersembunyi dibalik kausku. Cincin perak polos yang didalamnya terukir nama Edgar – yang adalah liontinnya – kugenggam erat-erat. Airmataku menetes tanpa diberi aba-aba. Hatiku kembali pedih. Wajah Edgar Nampak begitu nyata dalam benakku. Padahal aku sudah menyingkirkan semua fotonya. Aku sudah menyimpannya dalam gudang. Aku tidak mau kembali merasa bersalah dan harus membunuh diriku sendiri bila melihat fotonya.
Aku linglung. Lututku lemas sehingga tidak mampu menopang tubuhku yang makin bertambah kurus, lalu aku jatuh terduduk dilantai. Masih terus menangis tanpa bersuara sambil sesekali menyebut nama Edgar.
Harusnya sudah kusingkirkan juga kalung ini. Tapi saat aku hendak melakukannya aku tidak sanggup. Rasanya sebagian jiwa Edgar berada dalam kalung ini. Aku tidak sanggup membuat jauh Edgar. Walaupun hanya namanya yang terukir dalam cincin perak polos. Edgar seolah-olah hidup dalam cincin ini dan berbisik menenangkanku saat cincin yang tergantung ini menyentuh dadaku tepat diatas jantungku yang berdetak tak karuan.
Aku mendengar suara ibuku dalam pikiranku. Ibuku datang. Ia pasti cemas menungguku yang tidak juga keluar dari kamar. Aku menebak sudah lama sekali aku menangis. Mungkin sekitar satu jam lebih. Aku mendengar pintu kamar diketuk. Lalu muncul kepala ibuku yang cantik.
“ Sayang,” sapanya. “ Kau kenapa?” ujarnya panik sambil mendekatiku saat melihat wajahku yang kacau.
“ Mom, harusnya aku yang mati! Harusnya aku! Bukan Edgar!” raungku disela-sela tangisku yang makin menjadi.
Ibuku makin erat memeluk tubuhku. Ia ikut menangis. Aku tahu itu salah. Aku sudah melanggar janji untuk tidak membuat ibuku menangis. Aku melanggar janji.
“ Sayang, sudahlah…” isak ibuku.
“ Maafkan aku, mom. Aku membuatmu sedih.”
Ibuku menggeleng. “ Sudahlah. Tenangkan dirimu. Kau akan oke. Edgar akan bahagia melihatmu bahagia, sayang.”
Aku mengangguk dengan paksa. Itu kulakukan untuk menenangkan ibuku. Agar ia tidak menangisiku.
“ Sori, mom. Aku membuatmu menunggu lama di meja makan, ya?” tanyaku sambil memasukkan liontin kedalam kausku lagi. “ aku janji akan langsung menyusulmu ke meja makan setelah berganti baju.”
Ibuku menatapku sanksi. Aku mendengar pikirannya tidak memercayaiku.
“ Aku janji,” kataku meyakinkan.
“ Baiklah. Cepat ya, Nadine sayang.” Ibuku mengecup keningku lalu menghilang dibalik pintu yang tertutup.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Lalu menguatkan diriku untuk berganti baju dan berjanji lagi untuk tidak membuatnya menangisiku lagi.
Aku sedih melihat ibuku yang murung dimeja makan saat aku menepati janjiku untuk cepat menemuinya. Lalu aku meriang-riangkan suaraku yang parau akibat menangis tadi.
“ Mom,” sapaku dengan riang yang dibuat-buat.
“ Nadine,”
“ Apa yang kau masak untuk makan siang?” tanyaku mengalihkan perhatiannya.
“ Oh, hanya ayam goreng dan tumis kangkung. Tapi sudah dingin sekarang,” ia tampak kecewa. Perasaanku menjadi tidak enak lagi.
“ Masakan Indonesia. Aku menyukainya. Apalagi buatanmu, mom. Ayo kita makan. Perutku sudah menjerit-jerit untuk diisi.”
Ibuku tersenyum lalu mengisikan piringku dengan nasi, ayam goreng dan tumis kangkung. Dan mengisikan piringnya juga,
Aku mencoba terlihat lahap walaupun sebenarnya tidak bernapsu untuk makan. Tenggorokkanku rasanya tidak enak.
“ Bagaimana kuliah pertamamu?” Tanya ibuku.
“ Baik,” sahutku sambil mengunyah.
“ Sudah dapat teman?” Tanya ibuku lagi sambil menyuapkan sendok yang berisi makanan kemulutnya yang mungil.
Aku menelan lalu meneguk air putih sebelum berbicara. “ Mmmm…apa Panji bisa disebut teman?” aku malah balik bertanya.
“ Panji? Siapa Panji? Cowok yang kau taksir?” goda ibuku.
Aku mengernyitkan dahi yang tertutup oleh poni. “ Bukan, mom!”
“ Lalu? Cowok yang menaksirmu?” tebak ibuku lagi.
Aku mengerang. “ Ayolah mom…” aku sedikit merajuk.
“ Oke. Ceritakan!” tuntut ibuku.
Lalu aku menceritakan kejadian pada awal Panji mengajakku berbicara, mengajakku berbicara dalam pikiran, dosen yang banyak bertanya, Panji yang takjud melihat mobilku, dan mengantarkan Panji pulang. Perasaanku mendadak aneh. Tapi bukan perasaan sakit. Melainkan perasaan lega. Sepertinya sudah lama aku tidak saling bercerita dengan ibuku.
Tapi kuperhatikan ibuku tampak senang. Aku pun ikut senang.
“ Wah, kalau aku dengar dari ceritamu, kurasa Panji anak yang baik,” tebak ibuku begitu aku selesai bercerita.
“ Terlebih lagi dia ganteng sekali!” sambungku.
“ Oya? Ajak dia main kesini. Ibu ingin menilai, seberapa gantengnya dia?”
“ Janji padaku mom tidak akan jatuh cinta pada borondong!” candaku.
“ Hei! Tentu saja tidak!”
“ Sebenarnya besok aku sudah berjanji – sebenarnya dia yang memaksaku untuk berjanji – untuk berkunjung ketempat kostnya. Kalau mom tidak keberatan – “
“ Tentu saja tidak! Aku senang kau memiliki teman baik secepat ini. Bertemanlah yang baik dengannya. Kalau dia macam-macam padamu, laporkan padaku!” kata ibuku. Kata-katanya yang terakhir terdengar galak.
“ Tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri!” ujarku.
Aku menghabiskan sisa siang dengan ibuku. Bercerita sampai mulut sudah pegal. Senang rasanya kembali dekat dengan ibuku. Aku jadi rindu dengan ayahku juga. Andai saja ia cepat pulang kesini. Mungkin ceritanya akan lebih seru. Acara cerita-cerita terhenti begitu handphone-ku berbunyi mengalunkan lagu Paramore yang menjadi soundtrack film Twilight.
“ Kurasa itu Panji,” kataku meminta ijin pada ibuku untuk meninggalkannya sementara.
“ Sambutlah. Siapa tahu dia mengajakmu pergi malam ini,” goda ibuku lagi.
“ Hentikan, mom!” sergahku.
Ibuku tertawa. “ Oke, oke.”
Aku langsung melesat menuju kamarku. Kusambar hapeku dari atas meja rias. Suaranya kencang sekali. Aku membuka pesan yang ternyata memang dari Panji.
From : +6285220224633
Nadine? Ini Panji. Besok jangan lupakan janjimu :p
Aku tersenyum membaca pesan darinya. Sudah lama sekali aku tidak pernah ber-SMS-an dengan siapapun. Aku sedih saat memegang hapeku. Karena Edgar tidak akan pernah lagi menelepon atau mengirimku SMS. Itu menyakitkan sekali. Tapi kali ini entah kenapa aku ingin sekali membalas pesan dari Panji.
To : +6285220224633
Oke.tenang sja.aQ tdak akn lupa ;p
Lalu aku menyimpan nomor hape Panji kekontakku. Lama aku menunggu balasan dari Panji. Sampai-sampai aku tertidur. Mungkin aku kelelahan menjalani hari ini. Aku tidak sabar menunggu hari esok. Entah kenapa aku bersemangat sekali menyongsong hari esok. Padahal sebelumnya, aku tidak pernah berharap hari esok datang untukku.
Minggu, 11 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar